Malaysia hingga Venezuela Beli Pesawat Buatan Indonesia
Resty Armenia, CNN Indonesia
Senin, 15/02/2016 08:46 WIB
Browser anda tidak mendukung iFrame
Teknisi menyelesaikan proses produksi pesawat CN235 di hanggar PT Dirgantara Indonesia, Bandung. (ANTARA/Novrian Arbi)
Bandung, CNN Indonesia
--
“‘Apa mungkin orang Indonesia bisa bikin pesawat
terbang?’ Orang Indonesia memang gemar bersikap sinis dan mengejek diri
sendiri,” kata Bacharuddin Jusuf Habibie, Presiden Republik Indonesia
ketiga yang juga pernah menjabat sebagai Presiden Direktur PT Industri
Pesawat Terbang Nurtanio yang kemudian berubah nama menjadi Industri
Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) –sekarang PT Dirgantara Indonesia
(PTDI).
Kalimat itu dilontarkan Habibie saat berkunjung ke Kantor
Manajemen Garuda Indonesia di Kompleks Bandara Soekarno-Hatta, Januari
2012. Habibie, saat menjadi Menteri Riset dan Teknologi era Soeharto,
terkenal dengan visinya hendak membawa Indonesia menjadi negara industri
berteknologi tinggi. Pria yang disekolahkan Soekarno ke Jerman untuk
mengambil studi teknik penerbangan spesialisasi konstruksi pesawat
terbang itu kukuh mendorong Indonesia melakukan lompatan dari negara
agraris menuju negara industri.
Perusahaan yang
sempat ia pimpin, kini bernama PT Dirgantara Indonesia, mengalami
jatuh-bangun luar biasa. Pekan lalu saat wartawan CNNIndonesia.com,
Resty Armenia, menyambangi markas PTDI di Bandung, Jawa Barat, lima
pesawat terlihat berjajar di hanggar perakitan akhir perusahaan itu.
Kelima
pesawat tersebut "diparkir" di hanggar karena belum berkomponen
sempurna. Para staf berseragam biru-hitam tampak lalu-lalang di dalam
hanggar. Mereka sibuk mengecek kondisi sambungan sayap pesawat, memasang
mesin dan sistem pesawat, mencocokkan komponen pesawat, dan lain-lain.
Pesawat
pertama yang terlihat dari pintu hanggar ialah burung besi pesanan
Angkatan Udara Tentara Nasional Indonesia. Pesawat jenis NC235-200 MPA (
maritime patrol aircraft) yang belum bercat dan bermoncong itu telah diberi label "N-063 TNI AU" di sisi kiri bagian depan.
Pesawat
itu rencananya akan diserahkan kepada TNI bulan September. TNI memang
menjadi salah satu institusi yang kerap "mencicipi" hasil "masakan"
PTDI.
 Pesawat NC235-200 MPA pesanan TNI AU di hanggar perakitan akhir PTDI, Bandung, Jawa Barat. (CNN Indonesia/Resty Armenia)
|
Di seberang pesawat pesanan TNI AU, bertengger dua burung besi jenis
NC212i pesanan pemerintah Filipina. Negara pimpinan Benigno Aquino III
itu belum lama ini memutuskan untuk membeli dua unit NC212i untuk
mendukung kekuatan militernya.
Tepat di belakang NC212i,
terlihat satu pesawat tipe C212-400 MPA yang dipesan Vietnam untuk
kebutuhan komersial. Vietnam memesan C212-400 MPA itu tiga unit
sekaligus. Selain satu yang ada di hanggar, dua unit lainnya sudah
memasuki tahap pengecatan dan tes terbang sehingga tidak diletakkan di
hanggar perakitan.
Di pojok hanggar, bertengger burung besi
jenis NC235-200 MPA milik pasukan militer pemerintah Senegal. Pesawat
ini akan dikirim ke negara di barat benua Afrika itu pada bulan Oktober.
"Nantinya
pesawat-pesawat ini sebelum dikirim akan disertifikasi oleh badan
berwenang,” kata Kepala Divisi Pusat Perakitan Akhir dan Pengiriman PTDI
Husni Waluyo di hanggar PTDI.
Pesawat yang akan digunakan untuk kepentingan militer akan disertifikasi oleh IMAA (
Indonesian Military Airworthiness Authority)
Kementerian Pertahanan, sedangkan pesawat komersial disertifikasi oleh
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.
Secara
umum, kata Husni, pembuatan satu unit pesawat bisa menghabiskan waktu
18 hingga 24 bulan. "Mulai dari bahan baku sampai perakitan akhir."
Pesawat-pesawat yang ada di hanggar perakitan akhir PTDI hanya
segelintir dari total pesanan. Sejauh ini, PTDI yang berstatus Badan
Usaha Milik Negara telah berhasil mengirimkan produknya ke berbagai
negara.
Thailand misalnya "keranjingan" membeli pesawat buatan
PTDI karena dianggap sesuai dengan medan dan kebutuhan pertahanannya.
Selain itu, letak geografis Thailand yang dekat dengan Indonesia
mempermudah servis pendukung pascapembelian pesawat (
aftersales support).
Pesawat yang belum lama ini dipesan pemerintah Thailand berjenis CN235-220 MPA (
multi purpose aircraft). Pesawat itu akan digunakan Kepolisian Kerajaan Thailand untuk mengangkut pasukannya.
Sebelumnya, Thailand juga membeli pesawat C212-400 untuk melakukan hujan buatan (
rain-making). Pesawat itu telah dikirim PTDI ke Thailand tahun lalu, 2015.
Berdasarkan data PTDI, Thailand pun pernah membeli lima unit pesawat NC212 dan dua unit NC235 untuk kebutuhan angkutan sipil.
Direktur Utama PTDI Budi Santoso pada kesempatan itu menunjukkan data
daftar konsumen perusahaannya. Data tersebut menunjukkan produk PTDI
dikenal hingga Venezuela. Negara Amerika Latin itu pernah membeli CN235
sebagai alat angkut penumpang.
Burkina Faso di Afrika Barat juga
merogoh kocek untuk memesan dua unit CN235 sebagai alat transportasi
militernya. Adapun Guam di Mikronesia, Pasifik Barat, membeli dua unit
NC212.
Selanjutnya, Pakistan membeli empat unit CN235, tiga di
antaranya untuk mengangkut pasukan militer, sedangkan satu lainnya
digunakan sebagai alat transportasi
very important person (VIP).
Ketenaran
CN235 pun sampai ke telinga negara-negara yang lebih maju seperti Uni
Emirat Arab, Korea Selatan, Turki, Brunei Darussalam, dan Malaysia.
Negara-negara tersebut memesan CN235 dengan berbagai kebutuhan.
Uni
Emirat Arab membeli enam unit CN235 untuk keperluan angkut militer dan
satu unit pesawat berjenis sama sebagai alat transportasi
very very important person (VVIP).
Brunei
Darussalam juga memilih CN235 sebagai kendaraan angkut VVIP. Sementara
Malaysia membeli enam unit CN235 untuk mengangkut pasukan militer
mereka, dan dua unit lainnya sebagai alat angkut VVIP.
Turki pun memesan enam unit CN235 MPA dan tiga unit CN235 jenis
maritime surveillance aircraft (MSA).
Berikutnya,
sebagai bentuk kedekatan hubungan dengan pemerintah Indonesia, Korea
Selatan juga menjadi konsumen PTDI. Tak tanggung-tanggung, Negeri
Ginseng membeli 12 unit CN235 untuk berbagai keperluan. Tujuh unit di
antaranya untuk alat transportasi militer, satu unit untuk angkutan
VVIP, dan empat unit untuk MSA.
Klaim terhebat di Asia TenggaraSeiring
banyaknya pelanggan PTDI, perusahaan itu kini mengklaim sebagai pabrik
manufaktur pesawat terunggul di Asia Tenggara. PTDI telah menyerahkan
lebih dari 400 pesawat kepada 49 operator sipil dan militer di dalam dan
luar negeri.
Berdasarkan profil PTDI, produk utama perusahan itu
amat bervariasi, mulai pesawat terbang, komponen struktur pesawat, jasa
perawatan pesawat, jasa rekayasa dan analisis kedirgantaraan, sampai
simulator penerbangan.
PTDI memproduksi berbagai jenis pesawat
CN235 dengan sertifikat tipe untuk penumpang sipil, kargo, pembuat
hujan, transportasi militer, patroli maritim, survei, pengawas pantai,
dan lain-lain.
Selain itu, PTDI memproduksi berbagai pesawat
terbang lewat skema produksi bersama dengan para mitra kerja strategis
internasional seperti Airbus Defence and Space asal Eropa untuk berbagai
varian NC212 dan C295; Airbus Helicopters untuk berbagai varian
helikopter AS332, H225/H225M, AS550/555/565, dan AS350/365; serta Bell
Helicopter Textron asal AS untuk berbagai varian Bell 412.
PTDI
memproduksi komponen-komponen serta alat dan perlengkapan untuk pesawat
Airbus A320/321/330/340/350/380. Pun melayani jasa pemeliharaan,
pemeriksaan, perbaikan, perubahan, kustomisasi, dan dukungan lainnya
untuk setiap produk dirgantara yang dia hasilkan. Juga untuk produk
non-PTDI seperti A320, Fokker100, dan Fokker27.
Meski demikian pada November 2015, TNI AU sempat menyebut PTDI lambat
menyelesaikan pesanan helikopter. Tudingan lamban itu dilontarkan di
tengah ramai pemberitaan TNI hendak mengimpor helikopter VVIP
AgustaWestland AW101 produk Italia-Inggris.
Kepala Staf TNI
Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna yang juga Komisaris Utama PTDI
menyebut helikopter EC725 Caracal atau Super Cougar yang dipesan
institusinya tak datang sesuai waktu yang disepakati.
Menanggapi
komplain itu, Direktur Utama PTDI Budi Santoso menjamin hal tersebut tak
akan terulang. Ia mengklaim perusahaannya telah makin profesional dalam
mengerjakan pesanan pesawat.